Customer Service

10 Pembeli Terakhir

10 Pembeli Terakhir »
No. Nama Tanggal Kota
1 Syafriana 23-11-18 Jakarta
2 Surbakti 23-11-18 Ciamis
3 Juliani 22-11-18 Depok
4 supir tangki ( Effendi) 19-11-18 Cirebon
5 Mardiah 08-11-18 Banda Aceh
6 Miadji raharjo 07-11-18 Jakarta
7 Yantri 07-11-18 Depok
8 King dong suk/mba yuni 01-11-18 Jakarta
9 Tantri 19-10-18 Depok
10 Titin 12-10-18 Cirebon
* Jumlah Terjual : 22493 Botol

Berita / Artikel

Berita / Artikel »

Waspada Komplikasi Timbul Karena Kadar Gula Berlebih

04-Nov-2015
Hasil Riskesdas 2013 memperlihatkan ada penambahan prevalensi diabetes di banding hasil Riskesdas 2007, yakni dari 1, 1 % jadi 2, 1 %. Pada penelitian ini pula diketemukan bahwa prevalensi DM condong lebih tinggi pada grup orang-orang berpendidikan tinggi serta dengan kuintil indeks kepemilikan tinggi, yang salah satunya adalah orang-orang umur produktif. 

Hasil ini pasti meresahkan. Pasalnya, diabetes tak cuma bisa menyebabkan komplikasi periode panjang, namun pula masalah kerja serta produktivitas. 

Kandungan glukosa berlebihan didalam darah bisa mengakibatkan terjadinya komplikasi pembuluh darah besar serta halus. Komplikasi pembuluh darah besar diantaranya jantung koroner, stroke serta impotensi. 

Sedang komplikasi yang berlangsung pada pembuluh darah halus diantaranya kebutaan, masalah pada retina, tidak berhasil ginjal dan luka pada kaki pasien diabetes atau yang dikatakan gangren. 

Pada studi yang dipresentasikan dalam European Association for the Study of Diabetes (EASD) 2015 Meeting, tingginya kandungan glukosa darah sesudah makan mengakibatkan 25 % pasien diabetes bolos kerja, datang terlambat, atau pulang lebih awal. Disamping itu, 75 % yang lain mengeluhkan masalah produktivitas seperti susah berkonsentrasi, bekerja lambat atau kurang produktif, semakin banyak beristirahat, kerap bikin kekeliruan, sampai membatalkan pertemuan usaha lantaran capek. 

Kecuali masalah produktivitas segera, memanglah diabetes sudah diketemukan terkait dengan masalah kognitif pada penderitanya. Masalah kognitif yang bisa berlangsung salah satunya masalah memori, mood swing, persepsi, perhatian, kecepatan reaksi, serta konsentrasi. 

Bahkan juga, pada studi yang pula dipresentasikan dalam EASD 2015, diketemukan bahwa pasien diabetes type 2 dengan kandungan HbA1c ≥10% ataupun dengan kandungan HbA1c 6% berisiko 50 % lebih tinggi alami demensia berat serta butuh dirawat dirumah sakit. 

Sekarang ini, diabetes semakin banyak berlangsung pada rentang umur yang lebih muda. Karenanya, ancaman penurunan produktivitas pada pasien diabetes butuh diwaspadai. Gangguan produktivitas ini bisa menyebabkan efek serius seperti kecelakaan kerja, sampai diskriminasi serta daya kompetitif yang rendah.

Untuk hindari masalah produktivitas, dibutuhkan kontrol glukosa darah yang tambah baik, kata Aris. Kontrol gula darah yang tambah baik utama dikerjakan lantaran banyak pasien diabetes yang glukosa darahnya belum termonitor, walau sudah konsumsi obat-obat diabetes yang diresepkan oleh dokter. 

Hasil Riskesdas 2013 tunjukkan ada penambahan prevalensi diabetes di banding hasil Riskesdas 2007, yakni dari 1, 1 % jadi 2, 1 %. Pada penelitian ini pula diketemukan bahwa prevalensi DM condong lebih tinggi pada grup orang-orang berpendidikan tinggi serta dengan kuintil indeks kepemilikan tinggi, yang salah satunya adalah orang-orang umur produktif. 

Hasil ini pasti meresahkan. Pasalnya, diabetes tak cuma bisa menyebabkan komplikasi periode panjang, namun pula masalah kerja serta produktivitas. 

Kandungan glukosa berlebihan didalam darah bisa mengakibatkan terjadinya komplikasi pembuluh darah besar serta halus. Komplikasi pembuluh darah besar diantaranya jantung koroner, stroke serta impotensi. 

Sedang komplikasi yang berlangsung pada pembuluh darah halus diantaranya kebutaan, masalah pada retina, tidak berhasil ginjal dan luka pada kaki pasien diabetes atau yang dikatakan gangren. 

Pada studi yang dipresentasikan dalam European Association for the Study of Diabetes (EASD) 2015 Meeting, tingginya kandungan glukosa darah sesudah makan mengakibatkan 25 % pasien diabetes bolos kerja, datang terlambat, atau pulang lebih awal. Disamping itu, 75 % yang lain mengeluhkan masalah produktivitas seperti susah berkonsentrasi, bekerja lambat atau kurang produktif, semakin banyak beristirahat, kerap bikin kekeliruan, sampai membatalkan pertemuan usaha lantaran capek. 

Kecuali masalah produktivitas segera, memanglah diabetes sudah diketemukan terkait dengan masalah kognitif pada penderitanya. Masalah kognitif yang bisa berlangsung salah satunya masalah memori, mood swing, persepsi, perhatian, kecepatan reaksi, serta konsentrasi. 

Bahkan juga, pada studi yang pula dipresentasikan dalam EASD 2015, diketemukan bahwa pasien diabetes type 2 dengan kandungan HbA1c ≥10% ataupun dengan kandungan HbA1c 6% berisiko 50% lebih tinggi alami demensia berat serta butuh dirawat dirumah sakit. 

Sekarang ini, diabetes semakin banyak berlangsung pada rentang umur yang lebih muda. Karenanya, ancaman penurunan produktivitas pada pasien diabetes butuh diwaspadai. “Gangguan produktivitas ini bisa menyebabkan efek serius seperti kecelakaan kerja, sampai diskriminasi serta daya kompetitif yang rendah, ” tutur Dr. dr. Aris Wibudi SpPD, KEMD, CHT, ABAARM dipl, seseorang spesialis penyakit dalam. 

Untuk hindari masalah produktivitas, dibutuhkan kontrol glukosa darah yang tambah baik, kata Aris. 

Kontrol gula darah yang tambah baik utama dikerjakan lantaran banyak pasien diabetes yang glukosa darahnya belum termonitor, walau sudah konsumsi obat-obat diabetes yang diresepkan oleh dokter.

 

 

Berita / Artikel Lainnya :
* Disclaimer :
  • Manfaat yang didapat dari mengkonsumsi obat ini berbeda-beda pada setiap orang.